universitas gunadarma

Jumat, 22 Maret 2013

Jeritan Hati

       Di suatu hari ku temukan seseorang pria yang menurutku dia adalah malaikat ku, setelah beberapa lama ku kenal dia ku fikir kita hanya sahabat, ternyata dia lebih dari sahabat, tiba-tiba cinta timbul dari hatiku. sosok seperti dia yang selama ini ku cari, namun aku resah karena perasaan ku takut tidak sependapat dengan perasaannya, hancur yang saat itu kurasakan, apakah aku terlalu buruk untukmu? namun tak ku duga dia ternyata perasaan ku salah, aku senang dan rasanya aku ingin mengatakan "aku sayang kamu sampai akhir  hayat ku",
      Tak berlangsung lama kami pun menjalin hubungan. Rasanya aku ingin menjerit dan aku akan bilang " Tuhan aku bahagia dan beruntung mempunyai seorang pria seperti dia", "apa aku bisa bertahan denganmu? tentu bisa jika aku dan dia saling percaya dan saling berkomunikasi dengan baik" dalam hatiku.
      Setelah sebulan berlalu aku bersamanya, tiba-tiba dia pergi entah kemana, tak ada kabar. setelah beberapa minggu dia menghilang, tiba-tiba dia menghubungi ku lewat pesan singkat "Maafkan aku sayang, aku terlalu mencintaimu, aku takut mengecewakan kamu, aku pergi supaya kamu bisa melupakan aku, aku tak pantas dicintai. aku takut kamu kenapa-kenapa mengetahui diriku lebih jauh. Sayang sungguh aku tak ada maksud untuk membuat keadaan kita seperti ini, andai waktu bisa diulang kembali, akan kucoba melawan problem ini. maafkan aku sayang aku menyayangi kamu". aku tak berdaya membaca pesan itu, aku meneteskan air mataku hingga ku tak sanggup untuk membacanya. aku mencoba terus hubungi dia, namun aku tak berhasil.
      Sudah hampir 4 bulan ku menunggunya, dan pada saat aku tertidur ku mendengar suara handphone berbunyi, ternyata pesan singkat yang bertulis "aku menunggu kamu di rumah aku sekarang!", aku yang masih setengah sadar ku langsung mengganti pakaianku dan bergegas untuk ke rumahnya, setelah sampai dirumah dia, aku melihat dia terbaring lemah ditempat tidur dia, tak kuasa aku melihatnya air mata yang ku tahan tanpa ku sadari terlihat di pipi ku. "Aku tak kuasa menahan rasa sakit hati, yang tadinya aku mau emosi berubah menjadi lemah tak berdaya melihat kamu seperti itu, aku menyesal kenapa aku tak sadar dari dulu kalau kamu memang malaikat aku yang sangat baik. Aku sayang kamu, aku mohon kamu bangun demi janji kita". kataku sambil meneteskan air mata dan menggenggam tangannya. Ternyata kata ibunya dia terkena tumor ganas yang menggerogoti jantungnya, aku hanya diam dan hanya bisa melihatnya dengan selang di mulutnya, infusan dan alat-alat dokter yang membantunya untuk bisa bertahan wajah ku yang tak ada keinginan untuk hidup aku cuma bisa menangis. aku bertanya kepada diriku "apakah hari ini terakhir aku untuk bertemu dengan kamu, tolong jangan buat aku seperti seorang yang tak ada keinginan untuk hidup lagi". tiba-tiba dia meneteskan air mata, dan reaksi tangannya membuatku semangat. dan aku pun memeluknya dan ku kecup kening dia. Tak berlangsung lama, akhirnya dia melepaskan tanganku dan jantungnya tak berdetak lagi. Aku tak percaya dan ku panggil orang tua dia dan ternyata dia meninggalkan aku dan orang-orang terdekat dia untuk selamanya. Tak percaya kisah cinta ku seperti ini, dan aku tak sanggup mengenang kisahnya, akhirnya ku putuskan pindah rumah ke luar kota. Namun tetap saja hatiku tidak bisa dibohongi, aku masih tetap memikirkan dia. THE END  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar